Rabu, 24 September 2014

Cerpen Remaja



Seharum Saling Memahami


Zahira merupakan gadis manis yang berbudi pekerti luhur.Sejak kecil ia tumbuh menjadi gadis yang ramah,santun,dan menyenangkan.Tahun ini Zahira selesai belajar di sekolah menengah pertama.Kemudian ia berniat untuk melanjutkan belajar di madrasah dengan tujuan ingin memperluas pengetahuan dan wawasanya tentang Islam.

Dua bulan kemudian Zahira datang ke Madrasah Aliyah {sederajad dengan SMA}di sebuah kota yang lumayan jauh d
ari tempat tinggalnya.Madrasahnya cukup terkenal dengan kualitas yang baik di kota itu.

Zahira tersenyum menatap langit pagi yang cerah, dengan penuh percaya diri ia mengepalkan jari-jarinya dan mengangkatnya keatas udara dengan senyum semangat.Ia berharap kelak nanti bisa memperdalam ilmu agama di tempat belajarnya yang baru,ia berharap di madrasah ini supaya tidak menjadi orang yang pincang.Agar ia hidup dalam kebahagiaan.

Kaki kananya ibarat ilmu agama dan kaki kirinya di umpamakan ilmu umum.Semuanya akan membantu perjalanan kehidupan ke depan,sehingga ia tidak merasa berat sebelah.

Saat dimulai pelajaran di kelas,ia tiba-tiba diajak keluar kelas oleh ketua kelasnya.Tapi kali ini yang jadi kepala suku{ketua kelas}adalah cewek,namanya Lulu.

“Ra...,ikut aku yuk”,pinta lulu kepada Zahira.”kemana lu...?”.”udah ikut saja”.”Tapi ini kan lagi pelajaran”.”Ra..., ini juga demi kelas kita koght”.”Ya udah ayo,tapi jangan lama ya?”.”He’em santai aja”.

Saat itu Zahira dan Lulu izin kepada guru yang mengajar di kelas.Kemudian keluar bersama.Ternyata Lulu mengajak Zahira pergi ke kelas lain.

“Assalamu’alaikum..,”ucap Lulu di kelas lain.”Wa’alaikumussalam...” jawab  pak guru  dan semua siswa-siswi dikelas itu dengan serempak.Kemudian mereka mendekati  pak guru dan berkata’’maaf pak ,kami mengganggu pelajaran bapak sebentar”.”Oh..tidak apa-apa,ada perlu apa kemari?”.”Begini pak ,kami kesini mau ngambil kitab nahwu punyanya pak galih yang sekarang dibawa Sultan”.”Oh ya silahkan “, ucap pak guru kepada Lulu.Dengan segera Lulu menghampiri Sultan dan mengambil kitab itu,sementara Zahira hanya terdiam di depan papan tulis di samping pak guru di kelas itu.Seperti patung saja ya..,hehey.Setelah itu mereka izin kembali ke kelasnya sendiri,karena sebentar lagi akan dimulai pembelajaran nahwu{kitab yang diambilnya tadi}.

 Sebelum mereka sampai di kelasnya ,tiba-tiba dari kejauhan terlihat Sultan  yang sedang mengejar mereka.”Lulu tunggu..,ini catatan penting pak Galih ketinggalan”.’Emh..ya makasih,oh iya tan  kenalin ini teman akrab saya di kelas  namanya Zahira.Sultan tersenyum santun kepada Zahira begitupun sebaliknya.

Sejak itu Zahira mulai mengenal Sultan.Ia sering ke kelas Sultan ketika jam  istirahat untuk membahas pelajaran yang belum ia kuasai dan yang ia rasa belum mampu bisa.Khususnya pelajaran agama,begitupun dengan Sultan yang masih kurang faham dengan pelajaran umum.Mereka saling melengkapi satu sama lain.Karena sering ketemu  dan saling membantu,mereka merasa lebih dari seorang teman,mereka menganggap hubunganya sudah seperti sahabat karena terasa begitu sangat akrab.

Seiring berjalanya waktu,Sultan merasa bahwa Zahira adalah gadis impianya.Ia mulai merasakan benih-benih cinta dalam hatinya.Sultan mulai menyukai Zahira dalam masa remajanya ini.

Dalam heningnya malam,dalam sebuah kesunyian di waktu petang,hati Sultan berkata:”aku mencintaimi Zahira,aku tak pernah lelah memperhatikanmu,namun aku tak akan mengungkapkan perasaan itu karena aku takut menyakitimu”.

Waktu begitu berlalu cepat tanpa tersadari kini Zahira sudah kelas XI.Ia duduk di kelas yang berbeda lagi dengan Sultan.Beberapa bulan ketika pelajaran sudah aktif,ada satu hari yang membuat sedih orang sekelas Sultan.Waktu Sultan mengerjakan soal di depan tiba-tiba ia jatuh pinsan.Sultan segera dibawa ke UKS supaya cepat sadar.Namun sudah berjam-jam ia pun tak sadarkan diri juga,maka ia segera dibawa ke rumah sakit,ternyata penyakitnya kambuh yaitu jantungnya melemah.

Hanya satu kelas itu yang tau akan kejadian tersebut.Zahira sahabat terdekatnyapun tidak tau akan kejadian itu.Saat Zahira pulang,saat ia keluar dari kelasnya ada seorang teman akrab Sultan menghampirinya,namanya Albi.Albi memulai pembicaraan kepada Zahira.Albi meminta Zahira untuk menjenguk Sultan.”Ra..,jenguk Sultan yuk..,dia tadi pinsan di kelas”.Zahira kaget mendengarnya.”Apa..? lalu bagaimana keadaanya sekarang? Sekarang dia dimana?”.”Tenang dulu ra ..,dia sudah ditangani oleh ahli kesehatan.Sekarang dia ada di rumah sakit wijaya,kita berangkat jenguk dia bareng yuk...?”ajak Albi.Zahira menunduk sebentar kemudian  berkata :”maaf bi..,aku gak bisa,titip salam saja buat dia.Semoga  dia cepat sembuh”.”Sampai saat ini dia belum sadar ra..,mungkin dengan hadirmu dia bisa membuka matanya”.Dengan berat hati Zahira tetap menolak ajakan Albi.”Sudah bi..,aku jangan dipaksa,aku benar-benar gak bisa ..maaf.

Zahira langsung menuju halte menunggu bus untuk pulang,tidak lama kemudian ia sampai di rumah.”Aku sahabat yang egois,disaat aku butuh kamu kamu selalu ada namun disaat kamu butuh aku aku malah menghilang,kejamnya aku..,maafkan aku Sultan aku hanya ingin menjauhimu agar kita tidak bosan ketemu setiap hari , semoga kamu disana cepat sembuh aamiin.

Setahun kemudian
Zahira dan Albi serta Sultan sudah kelas XII.Ketika berangkat sekolah kebetulan mereka bertemu di gerbang sekolah .”Selamat pagi sahabatku”.Sapa Sultan kepada Zahira.”Iya pagi juga”.Zahira hanya mengucapkan kata itu lalu segera pergi dari mereka.”Sabar tan.., akhir-akhir ini ia memang banyak berubah ,pokonya kamu selalu bersikap baik aja deh”.Albi mencoba menghibur Sultan.

Saat Zahira melihat daftar nama siswa sekelasnya ia terkejut ternyata ia satu kelas dengan Sultan.Mau gak mau Zahira harus jalani,karena tidak diperbolehkan pindah kelas.

Hari-hari dikelas XII ia lalui tanpa sahabatnya,ia tiba-tiba berubah menjadi cewek yang egois dengan sekitar,entah apa yang membuat Zahira secepat itu berubah.

Menjelang UN, tiba-tiba Sultan mengungkapkan perasaanya yang dulu  kepada Zahira.Perasaan yang sekian lama  dibendung dalam hatinya yang belum mampu dia tumpahkan.Dengan penuh keberanian dia ucapkan perasaan itu,waktu itu tepat mereka sedang membaca di perpustakaan kebetulan juga pas suasana sedang lumayan sepi.Satu huruf demi kata kemudian tersusun menjadi kalimat “Aku Mencintaimu Zahira”ternyata mampu di ucapkan Sultan,namun Zahira sama sekali tidak meresponya.Ia membalikkan badan seketika dan ia hanya menganggap semua itu hanyalah sebuah bercanda yang tidak lucu.Kejujuran Sultan menambah jauhnya Zahira dan menjadikan Zahira lebih egois kepada Sultan.

Beberapa bulan kemudian Zahira termenung di  lantai depan kelasnya.Tak lama kemudian terlihat Sultan  dari kejauhan.Sultan menengok sebentar lalu berjalan  entah hendak kemana.Perasaan tidak enak tiba-tiba menghadang hati Zahira.Ia berfikir mungkin Sultan sudah bosan melihat tampangnya yang sering angkuh saat bertemu.Sebentar ia teringat akan nasihat dari ustadz Maulana.Beliau berkata kepada murid-muridnya:”Janganlah kalian berbuat yang buruk kepada sesama,karena semua yang kita perbuat akan kembali kepada diri kita sendiri”.

Seketika Zahira merasa sangat resah.Ia tak habis fikir mengapa hatinya semudah itu terbalik.Padahal tidak ada masalah diantara mereka.Rupanya semua itu dirasa hanya menambah fikiran .Ia pun bertekad untuk segera kembali baik lagi dengan Sultan.

Zahira segera melepaskan kegundahanya sejenak ,untuk menyiapkan diri mengikuti pelajaran .Saat itu Sultan duduk tepat di depanya.Rupanya ada kesempatan yang hendak mampir.Saat ini tidak ada guru yang mengisi waktu kosong ini.Zahira tak mungkin melewatkan waktu yang berharga untuk segera minta maaf atas sifat ke-egoanya itu.

“Emh tan...,aku mau bicara sebentar”.Sambil berbisik dibelakang Sultan.”Ada apa?”.jawabnya singkat.”Maafkan aku ya”.Nadanya lirih .”Maaf untuk apa?”.”Selama ini aku jahat sama kamu.Aku sadar bahwa perbuatanku itu hanya membuatku resah”.”Tak perlu kamu meminta maaf,karena aku yang bersalah.Aku faham kalau kamu bersifat seperti itu,gak seharusnya aku lemah dengan penyakitku yang menjadikan kita jadi jarang ketemu bahas materi lagi seperti yang dulu, gak seharusnya juga aku mengungkapkan perasaan itu ke kamu”.


“Aku hargai perasaanmu itu,terima kasih kamu selalu memahamiku.Sekarang kita tetep jadi sahabat ya..., jangan  ada pertengkaran lagi  apalagi pertengkaran yang gak jelas seperti yang sudah kita alami”.mereka saling tersenyum santun.Seketika itu suasana hati Zahira  bak tersiram air es.Begitu lega,begitu tenang tanpa ada kegundahan,begitu bahagianya keakraban bisa terwujud kembali.

Terkadang masalah kecil memang sangat sepele,namun jangan pernah meremehkan yang kecil karena  hal yang besar itu berawal dari kumpulan  yang kecil.Jadilah orang yang saling mengerti,saling memahami,agar tercipta jiwa dan batin yang tenang hingga tercipta kedamaian sepanjang waktu.Ibarat tiada gading yang tak retak,tiada manusia yang sempurna dan manusia itu tempatnya salah.Tapi seenggaknya kita bisa mengurangi kesalahan-kesalahan yang akan terjadi dengan cara berhati-hati dalam hal apapun.


 -SEKIAN-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar